Tampilkan postingan dengan label Rabi’ah al-Adawiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rabi’ah al-Adawiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2012

Rabi’ah al-Adawiyah


A.    Riwayat Hidup Rabi’ah al-Adawiyah 

Nama lengkapnya Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah, seorang pemuka sufi abad kedua hijriyah. Ia lahir di Basrah tahun 95 H./713-714 M., pendapat lain mengatakan tahun 99 H./717 M.[1] Dia adalah anak keempat, karenanya diberi nama Rabi’ah yang artinya anak keempat, dari suatu keluarga miskin.[2] Kedua orang tuanya telah meninggal ketika ia masih kecil. Namun hal tersebut tidak membuatnya kehilangan pedoman. Demikian berat cobaan yang dihadapi ia tetap menerimanya dengan sabar dan penuh tawakkal kepada Allah swt.
Pada usia menjelang dewasa, ia pergi dan berpisah dari saudara-saudaranya, namun di tengah perjalanan yang tidak tentu arah, ia ditangkap oleh seorang penjahat lalu menjualnya kepada seseorang dengan harga enam dirham. Sejak saat itu ia menjalani hidupnya sebagai seorang budak.[3] Di siang hari ia harus bekerja berat melayani tuannya dan pada malam hari ia beribadah kepada Allah swt.
Pada suatu malam terjadi suatu peristiwa aneh yang merubah jalan hidupnya; tuannya terjaga dari tidurnya dan melalui jendela melihat Rabi’ah sedang beribadah dan sujud, di atas kepalanya nampak cahaya yang menerangi seluruh rumahnya, dalam ibadahnya Rabi’ah berdoa: “Ya Allah Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-Mu. Jika Engkau dapat mengubah nasibku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat sekejappun dari mengabdi kepada-Mu”. Melihat kejadian tersebut, sang tuan merasa takut dan tidak dapat memejamkan matanya hingga menjelang fajar. Pada pagi harinya, ia memanggil Rabi’ah dan memerdeka-kannya.[4] Sejak saat itu ia menghirup udara kemerdekaannya sebagai manusia.