Mutohharun Jinan
Pusat Studi Budaya Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Pabelan Tromol Pos I Kartasura, Surakarta
57102
Abstrak
Secara
artifisial, gerakan pemurnian Islam berupaya melakukan pencarian terhadap
kemurnian ajaran Islam. Terdapat dua tema pokok yang tampak dalam gerakan
purifikasi itu: Pertama, sumber ajaran Islam (Al-Qur'an dan Sunnah) menjadi
obyek garapan yang sangat penting untuk dikembalikan sebagai rujukan utama
dalam kehidupan beragama. Ini berarti bahwa kehidupan beragama semakin dekat
menuju ke arah “established Islam” dari pada “popular Islam”. Kedua, semangat
kebebasan individual untuk memanfaatkan akal pikiran dengan segala
konsekuensinya menjadi semakin tinggi. Hal ini mutlak diperlukan bagi usaha
dinamisasi ajaran Islam. Dalam perkembangannya purifikasi ini tidak hanya
ditujukan untuk menghilangkan tahayul, bid 'ah, dan khurafat. Upaya purifikasi
dalam perkembangan Islam kontemporer terkait dengan berbagai wacana global,
seperti terorisme, moderatisme, islamic local knowledge, dan gerakan
fundamentalisme-radikal.
Kata kunci: Dilema, Pemurnian Islam, Doktrinal, Sosiologis,
Kontemporer.
Pendahuluan
Kolonialisme Barat terhadap dunia Islam yang berkepanjangan
menyebabkan kehidupan kaum Muslim di permukaan bumi tercabik-cabik. Kehidupan
mereka terhiasi formalisme keberagamaan, kehidupan mistik yang tidak sehat,
tahayul menggantikan sikap orisinal Islam yang kreatif, lenyapnya daya kritis
dan keimanan terdesak menjadi ortodoksi yang sempit.
Situasi demikian meniscayakan umat Islam untuk mencari
“sesuatu” sebagai tempat menggantungkan harapan untuk mendapatkan rasa aman.
Sebagian besar umat memilih untuk mengingat kembali masa lalu Islam yang
gemilang. Masa kesempuranaan Islam yang telah menyejarah, yakni pada masa
Rasulullah dan para sahabat, zaman di mana Islam masih berada dalam wilayah
yang masih terbatas. Islam dalam ruang dan waktu demikian didefinisikan sebagai
ideal, murni atau autentik. Islam autentik (al-ashalah)
telah lama hilang dari masyarakat muslim, baik disebabkan kelalaian maupun oleh
karena “sengaja dicuri” orang lain (Issa J. Boulatta, 2000: 19-20). Oleh karena
itu, umat Islam memandang perlu mencari autentisitas Islam supaya umat Islam mendapatkan
kembali keemasannya.
Di
Indonesia gerakan-gerakan Islam puritan sering kali dinisbahkan pada gerakan
Paderi di Sumatra pada awal abad ke-19 dan kemudian diikuti oleh trio pembaharu
pada awal abad ke-20, yaitu Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam.
Perbedaan penampilan dan sasaran garapan ketiga gerakan itu, tidak menghalangi
kita untuk menarik suatu benang merah yang menjadi ciri utama dari
gerakan-gerakan purifikasi. Benang merah itu ialah perlawanannya terhadap
tradisi dan kepercayaan masyarakat yang koruptif dan menyimpang, serta
seruannya untuk kembali kepada ajaran yang murni (Syafiq A. Mughni, 2001: 5).
Para puritan
menampilkan tema-tema yang menjadi acuan gerakan purifikasi. Di antara
tema-tema itu ialah: pertama, bahwa korupsi keagamaan (bid'ah) telah melanda umat sehingga
agama yang mereka anut bukan merupakan Islam yang benar dan murni; kedua,
korupsi itu mungkin terjadi akibat penyalahgunaan kekuasaan tokoh-tokoh agama
atau akibat pengaruh-pengaruh non-Islam yang secara tidak sengaja mempengaruhi
pikiran umat Islam; ketiga, sebagai jalan keluar dari keadaan itu, Islam
harus dibersihkan dari semua korupsi itu dengan jalan “kembali kepada Al-Qur'an
dan Sunnah”; keempat, tipe ideal dari masyarakat yang dijadikan sebagai
rujukan beragama secara murni ialah generasi salaf, yaitu mereka yang hidup pada abad-abad pertama Islam. Jadi
generasi salaf itu dipandang sebagai
umat terbaik sepanjang sejarah.
Makalah ini akan melihat bagaimana gerakan purifikasi
dalam sejarah pemikiran Islam dan dampak yang ditimbulkan dari pencarian
otentisitas itu. Untuk mencapai tujuan itu, terlebih dahulu dijelaskan
akar-akar doktrinal dan sosiologis yang mendasari pencarian kemurnian Islam.
Selanjutnya melihat dinamika gerakan purifikasi di Indonesia.